(Jakarta, Notarynews) Menjaga kehormatan organisasi profesi dimulai dari kejujuran dalam menentukan pemimpinnya. Menjelang pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PP IPPAT) masa bakti 2027–2030, Wedy Asmara, SH, SpN, mengajak seluruh anggota untuk mengedepankan integritas, menjunjung nilai kejujuran, dan menjauhkan politik uang dari kehidupan berorganisasi.
Wedy merupakan salah satu bakal calon Ketua Umum PP IPPAT yang dinyatakan lolos verifikasi persyaratan. Bersama dengan Ruli Iskandar, SH, Dr. Nia Tresnawati, SH, SpN. MH dan Dr. Juniety Dame Purba, SH, SpN, MH, juga tercatat sebagai bakal calon yang mengikuti kontestasi kepemimpinan organisasi profesi tersebut.

Wedy Asmara (batik hijau) saat hadir mendampingi Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, saat memberikan pengarahan ke jajaran pemerintah daerah (Pemda), khususnya Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), serta Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) di Provinsi Jawa Tengah.
Kehormatan organisasi profesi tak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi juga oleh bagaimana pemimpin itu dipilih. Menjelang pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PP IPPAT) masa bakti 2027–2030, Wedy Asmara, SH, SpN, mengajak seluruh anggota untuk menjaga marwah organisasi melalui budaya kejujuran, integritas, dan sikap saling menghormati.
Bakal calon Ketua Umum PP IPPAT yang hobi olah raga bulu tangkis ini berpandangan, bahwa proses pemilihan kepemimpinan organisasi profesi hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi karakter banyak PPAT dalam menjalankan tugas sebagai pejabat umum.
Menurut Wedy, politik uang perlu dijauhkan dari kehidupan berorganisasi. Dukungan kepada calon pemimpin sebaiknya tumbuh dari keyakinan terhadap integritas, rekam jejak, visi, dan program kerja, bukan karena pemberian materi atau fasilitas.
Kejujuran sebagai karakter organisasi
Bagi Wedy, menjaga marwah IPPAT tidak harus dilakukan melalui pendekatan yang keras atau saling menyalahkan. Yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran bersama bahwa kejujuran merupakan fondasi dalam membangun organisasi profesi yang sehat dan bermartabat.
PPAT merupakan pejabat umum yang menjalankan kewenangan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Kepercayaan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugasnya, terutama dalam pembuatan akta autentik yang berkaitan dengan perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah.
Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kehati-hatian yang dibutuhkan dalam menjalankan jabatan tersebut, menurut Wedy, selayaknya juga tercermin dalam kehidupan berorganisasi. Karena itu, pemilihan Ketua Umum PP IPPAT semestinya menjadi ruang bagi anggota untuk menentukan pilihan secara bebas, jujur, dan bertanggung jawab. Setiap calon memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan, sementara anggota berhak menilai dan menentukan pilihan berdasarkan pertimbangan yang rasional.
Mengutamakan gagasan, bukan pemberian
Wedy juga memandang pentingnya membangun tradisi pemilihan yang mengutamakan dialog dan pertukaran gagasan. Para calon perlu diberi ruang untuk menjelaskan visi, misi, serta program kerja yang realistis bagi kemajuan organisasi dan kepentingan anggota.
Transparansi dalam proses pencalonan dan pemilihan, disertai keteladanan para calon, dapat membantu membangun kepercayaan serta memperkuat persaudaraan di antara anggota IPPAT.
Di sisi lain, seluruh anggota diharapkan memiliki kesadaran untuk tidak menjadikan pemberian uang atau fasilitas sebagai pertimbangan dalam menentukan dukungan. Pilihan yang lahir dari hati nurani dan penilaian objektif akan lebih mencerminkan kedewasaan organisasi profesi.
Pendekatan edukatif dan keteladanan dinilai penting untuk menumbuhkan budaya tersebut. Dengan demikian, meninggalkan politik uang bukan sekadar persoalan kepatuhan terhadap aturan, melainkan juga wujud kesadaran moral untuk menjaga kehormatan profesi.
Menjaga marwah, memperkuat persaudaraan
Pemilihan kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar, tetapi jangan sampai mengurangi rasa persaudaraan dan kebersamaan di antara anggota.
Wedy berharap kontestasi menuju kepemimpinan PP IPPAT periode 2027–2030 dapat berlangsung dengan mengedepankan kejujuran, keterbukaan, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Baginya, siapa pun yang nantinya memperoleh amanah memimpin organisasi harus mampu merangkul seluruh anggota, menjaga independensi organisasi, dan bekerja untuk kepentingan bersama.
Ditegaskan Wedy, marwah IPPAT bukan hanya tercermin dalam nama besar organisasi, melainkan juga dalam perilaku setiap anggotanya. Budaya jujur yang dipelihara dalam kehidupan berorganisasi akan memperkuat kepercayaan, sedangkan integritas yang dijaga dalam pelaksanaan jabatan akan mendukung kehormatan profesi PPAT di mata masyarakat.
“Saatnya kita bersama-sama menjaga marwah IPPAT ke arah yang lebih baik. Mari kita kedepankan kejujuran, integritas, dan persaudaraan. Biarlah pilihan lahir dari hati nurani dan keyakinan terhadap gagasan, sehingga organisasi ini semakin kuat, bermartabat, dan membanggakan seluruh anggotanya, ujar Notaris – PPAT Kabupaten Sukoharjo yang kini menjabat sebagai Ketua Pengwil IPPAT Jawa Tengah ini. (Pramono)