(Jakarta — Notarynews) Gambut Indonesia yang luasnya mencapai jutaan hektare kini menghadapi tekanan berat: perubahan hidrologi, konversi lahan, dan kebakaran berulang mengancam fungsi ekologisnya. Di tengah kondisi kritis ini, upaya pemulihan yang produktif, berkelanjutan, dan berbasis sains menjadi sangat mendesak.
Dalam Sidang Terbuka Pengukuhan Profesor Riset BRIN bertajuk “Implementasi Teknik Paludikultur dalam Sistem Agroforestri untuk Restorasi Ekosistem Gambut”, Rabu (10/12) di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Prof. Dr. Made Hesti Lestari Tata, S.Si., M.Si., menegaskan pentingnya paludikultur sebagai solusi restorasi gambut yang sejalan dengan kesejahteraan masyarakat.

Hesti menekankan bahwa pemulihan gambut tidak cukup dengan rewetting semata; keterlibatan masyarakat sebagai pelaku aktif menjadi kunci. “Tanpa partisipasi masyarakat, restorasi tidak akan berhasil,” ujarnya. Pendampingan, edukasi, dan pembangunan model agroforestri berbasis kebutuhan lokal menjadi bagian integral dari strategi ini.
Riset Hesti menitikberatkan pada spesies asli gambut, seperti balangeran (Rubroshorea balangeran) dan gelam (Melaleuca leucadendra), yang toleran genangan dan memiliki perakaran khas. Kedua spesies terbukti memulihkan struktur vegetasi, menekan laju subsiden, dan meningkatkan kemampuan gambut menahan air.
Model agroforestri yang dikembangkan mengintegrasikan tanaman kayu, buah, tanaman semusim, serta sumber daya lain dalam satu sistem. Pendekatan ini juga menanam jenis toleran genangan untuk mencegah kebakaran, meningkatkan sekuestrasi karbon, dan mendukung diversifikasi ekonomi melalui hasil hutan bukan kayu, seperti madu kelulut, tanaman obat, dan komoditas pangan lokal.
Selain aspek ekologis, Hesti menekankan pendekatan sosial dan budaya, termasuk padiatapa (persetujuan berbasis informasi), pelibatan masyarakat adat, dan integrasi pengetahuan lokal dalam setiap tahap restorasi.
Menutup orasinya, Hesti menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan strategi pemulihan gambut yang berkelanjutan, terukur, dan berbasis sains. “Paludikultur dan agroforestri adalah bagian dari solusi tersebut, langkah nyata untuk mendukung agenda Forest and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030 dan menjaga cadangan karbon gambut sebagai aset ekologis bangsa,” pungkasnya.
Pengukuhan ini sekaligus memperkuat posisi BRIN dan Indonesia dalam memajukan sains gambut untuk masa depan lingkungan yang lebih sehat dan tangguh. (Pramono)