(Yogyakarta – Notarynews) Ada sesuatu yang ganjil setiap Lebaran di Yogyakarta. Ketika kota-kota lain lengang ditinggal warganya pulang kampung, Jogja justru berdenyut lebih kencang. Jalanan tak pernah benar-benar sepi, lampu-lampu kota tetap menyala hingga larut, dan manusia datang seperti gelombang yang tak putus. Ini bukan sekadar arus balik. Ini adalah arus rindu.
Mereka datang bukan karena diwajibkan tradisi, bukan pula semata karena agenda liburan. Ada yang kembali untuk mengenang masa muda, ada yang mencari ketenangan batin, ada pula yang sekadar ingin “merasa pulang” meski Jogja bukan tanah kelahirannya. Di kota ini, kenangan seperti memiliki alamatnya sendiri.
Lebaran, yang sejatinya adalah momen kembali ke asal, justru menemukan tafsir baru di Jogja. Ia berubah menjadi perjalanan menuju rasa-rasa yang pernah singgah, lalu menetap diam-diam dalam ingatan. Maka, ketika jutaan orang bergerak menuju kota ini, sesungguhnya yang sedang terjadi bukanlah perpindahan manusia. Melainkan pergerakan emosi, kenangan, dan kerinduan yang akhirnya menemukan jalannya pulang.
Arus Rindu ke Jogja
Mungkin tak banyak yang menyangka, setiap Lebaran justru bukan warga Yogyakarta yang berbondong-bondong mudik keluar kota. Sebaliknya, kota yang dikenal sebagai Kota Gudeg ini justru menjadi tujuan bagi banyak orang dari berbagai daerah.
Fenomena ini sudah seperti tradisi baru. Setelah Hari Raya Idul Fitri, kendaraan dari luar kota mulai berdatangan. Jalanan makin padat, stasiun dan bandara dipenuhi penumpang, dan kamar-kamar penginapan cepat terisi.
Di kawasan Malioboro, suasana terasa hidup hampir tanpa jeda. Orang berjalan kaki berdesakan, pedagang menawarkan dagangannya, musisi jalanan menghibur siapa saja yang lewat. Di sela keramaian itu, aroma makanan khas Jogja justru menjadi daya tarik yang tak kalah kuat.
Salah satunya adalah Gudeg Yu Djum yang tak pernah sepi antrean. Gudeg manis dengan krecek pedasnya seolah menjadi “rasa wajib” bagi siapa saja yang datang ke Jogja.

Tak jauh dari kawasan penginapan, ada juga Warung Nguri-uri yang menawarkan hidangan sederhana seperti brongkos dan sayur lodeh. Menu rumahan ini justru diburu karena menghadirkan rasa yang akrab seperti makan di rumah sendiri.
Belum lagi sajian malam seperti Mie Godog yang hangat, atau Nasi Pecel yang sederhana namun kaya rasa. Semua itu menjadi bagian dari pengalaman Jogja yang tak terpisahkan.
Untuk oleh-oleh, nama Bakpia Pathuk 25 hampir selalu masuk daftar wajib. Toko-tokonya dipenuhi pengunjung yang rela antre demi membawa pulang sedikit “rasa Jogja” ke kota asal mereka.
Sebut saja Sukma dan Jaka, pasangan suami istri asal Kota Malang yang menginap di Hotel Amalia. Setelah pulang kampung ke Surakarta, mereka memilih mampir sebentar ke Jogja.
“Rasanya seperti pulang,” kata Sukma sederhana. Bagi dia, Jogja bukan sekadar tempat singgah, tapi tempat yang penuh kenangan masa sekolah.
Hal yang sama dirasakan Santi dari Jakarta. Setelah mengunjungi keluarga suaminya di Desa Kerawang, ia menyempatkan diri datang ke Jogja.
“Selalu beda rasanya kalau ke sini. Lebih tenang, lebih kena,” ujarnya.
Cerita-cerita seperti ini bukan hal baru. Banyak orang datang ke Jogja bukan hanya untuk liburan, tapi karena merasa punya ikatan dengan kota ini.
Pengamat budaya Ignas Kleden dalam bukunya Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (LP3ES, 1987) menjelaskan bahwa ada kota-kota yang punya “daya ingat kultural”, yakni kemampuan menyimpan pengalaman manusia yang pernah hidup di dalamnya.
Sementara itu, ekonom Sri Edi Swasono melalui gagasannya dalam Indonesia dan Doktrin Kesejahteraan Sosial menegaskan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia ada pada rakyatnya dan Jogja memperlihatkan itu lewat denyut ekonomi kecil yang hidup dari wisata.
Jogja memang bukan hanya soal tempat wisata seperti Pantai Parangtritis atau Candi Prambanan. Yang membuat orang kembali adalah suasananya yang sulit dijelaskan, tapi mudah dirasakan.

Lebaran di Jogja sepertinya bukan sekadar peristiwa tahunan. Ia adalah cerita tentang orang-orang yang datang membawa rindu, lalu pulang dengan rasa yang berbeda.
Jogja mengajarkan bahwa “pulang” tidak selalu soal alamat, tapi soal perasaan. Di tengah ramainya manusia yang datang dan pergi, kota ini tetap menjadi tempat yang menerima siapa saja tanpa banyak tanya.
Dan mungkin itu sebabnya, setiap Lebaran, arus manusia terus mengalir ke Jogja. Bukan untuk mudik, tapi untuk pulang dengan cara yang berbeda. (Pramono)