(Semarang, Notarynews) Isna Salsabela terbiasa berada di tengah kegiatan yang jauh dari urusan pasal dan peraturan. Sebagai aktivis lingkungan, ia menghabiskan waktu bersama komunitas pencinta alam, terlibat dalam kegiatan konservasi, hingga turun membantu masyarakat ketika banjir melanda. Ia pernah ikut dalam proses evakuasi warga dan bekerja di dapur umum untuk membantu memenuhi kebutuhan para korban.
Namun, aktivitas di alam dan kerja-kerja sosial itu tidak menjauhkannya dari dunia hukum. Justru dari pengalaman berhadapan dengan persoalan masyarakat, Isna semakin mantap menapaki jalur akademik yang telah dipilihnya. Setelah meraih predikat cum laude dan dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik III Sarjana Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), ia kini memilih melanjutkan pendidikan ke Magister Kenotariatan.
Melalui Beasiswa Prestasi 2026, Isna bersiap memasuki dunia kenotariatan. Sebuah pilihan yang mungkin tampak berbeda dari kesehariannya sebagai aktivis lingkungan. Tetapi baginya, kepedulian terhadap masyarakat dan profesi hukum bukanlah dua jalan yang saling bertentangan. Keduanya dapat bertemu dalam pengabdian dan tanggung jawab untuk menghadirkan kepastian serta keadilan.
Isna mulai menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Unissula pada 2022. Selama menjadi mahasiswa, ia tidak hanya memusatkan perhatian pada kegiatan akademik. Ia juga aktif dalam MAPAKUM, organisasi pencinta alam di lingkungan Fakultas Hukum Unissula.
Di organisasi tersebut, Isna terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi, pelestarian lingkungan, dan advokasi. Pada periode 2024/2025, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara Umum. Pengalaman berorganisasi itu mempertemukannya dengan banyak kegiatan yang menuntut kerja sama, kepedulian, serta tanggung jawab.
Salah satu pengalaman yang membekas adalah keterlibatannya membantu masyarakat terdampak banjir. Bersama rekan-rekannya, Isna ikut dalam proses evakuasi warga dan kegiatan dapur umum. Di tengah situasi yang tidak mudah, ia belajar bahwa kepedulian tidak cukup berhenti pada rasa simpati. Kepedulian perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses pendewasaan dirinya. Ia belajar memahami persoalan masyarakat dari dekat, bekerja dalam tim, dan menjalankan tanggung jawab di tengah kondisi yang menuntut kesigapan.
Di sisi akademik, Isna menuntaskan studi sarjananya pada 19 Agustus 2026 dengan predikat cum laude. Ia meraih IPK 3,68 sekaligus dinobatkan sebagai Lulusan Terbaik III Program Sarjana Ilmu Hukum. Capaian itu menjadi bekal untuk melanjutkan perjalanan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kemampuan bahasa Inggrisnya juga tercatat melalui hasil TOEFL ITP dengan skor 453. Pada bagian Structure and Written Expression, ia mencapai tingkat tertinggi B2.
Kini, melalui Beasiswa Prestasi 2026, Isna memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan di Program Magister Kenotariatan Unissula. Ia melihat beasiswa tersebut sebagai “jembatan emas” untuk memperdalam pengetahuan, khususnya dalam bidang hukum perusahaan dan hukum pertanahan.
Dua bidang itu menjadi perhatian Isna karena memiliki keterkaitan erat dengan praktik kenotariatan. Baginya, seorang notaris tidak cukup hanya memahami tata cara pembuatan akta. Penguasaan substansi hukum, kecermatan, dan kemampuan membaca persoalan hukum juga menjadi bekal penting dalam menjalankan jabatan.
Karena itu, ia berencana menjalani tahapan pendidikan dan persyaratan profesi secara sungguh-sungguh, termasuk mengikuti ujian kode etik serta menyelesaikan tahapan magang yang diperlukan untuk menjadi notaris dan PPAT.
Di samping itu, Isna memiliki ketertarikan pada penelitian hukum, terutama mengenai digitalisasi akta dan administrasi hukum. Ia melihat perkembangan teknologi membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi pelayanan, tetapi tetap harus ditempatkan dalam kerangka kepastian dan perlindungan hukum.
Bagi Isna, kemajuan teknologi tidak boleh menggeser prinsip-prinsip dasar profesi kenotariatan. Integritas, ketelitian, dan profesionalisme tetap menjadi fondasi yang harus dijaga. Sebab, produk hukum yang dibuat notaris bukan sekadar dokumen administratif, melainkan instrumen yang memiliki konsekuensi hukum bagi para pihak.
Perjalanan Isna dari kegiatan konservasi dan aksi sosial menuju pendidikan kenotariatan memperlihatkan satu benang merah: keinginan untuk memberi manfaat. Jika selama menjadi mahasiswa ia belajar hadir bagi masyarakat melalui kegiatan lingkungan, kini ia ingin mengembangkan kapasitas keilmuannya agar kelak dapat berkontribusi melalui profesi hukum.
Dunia kenotariatan memang berbeda dari aktivitas lapangan yang selama ini dijalaninya. Namun, keduanya sama-sama menuntut tanggung jawab. Dan bagi Isna, perjalanan baru itu bukan sekadar mengejar gelar berikutnya, melainkan mempersiapkan diri untuk menjalankan profesi dengan integritas, kecermatan, dan kepedulian terhadap sesama. (Pramono)