(Notarynews – Yogyakarta) Bagi Dony Oskaria, kesuksesan bukanlah keberuntungan yang datang tiba-tiba. Kesuksesan lahir ketika opportunity bertemu dengan preparation saat kesempatan datang kepada orang yang telah mempersiapkan dirinya dengan kerja keras, disiplin, dan keberanian mengambil risiko.
Prinsip itulah yang menjadi fondasi perjalanan hidup Dony Oskaria hingga mencapai posisinya saat ini sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara. Dalam sebuah sesi 1 on 1 Executive di Jogja Financial Festival 2026 di JEC Bantul, DIY, Dony membagikan kisah hidupnya yang penuh perjuangan, pengorbanan, dan tekad untuk terus bertumbuh.

Dony mengaku dirinya hanyalah anak desa yang lahir di Tanjung Alam, Sumatera Barat. Ia sempat menempuh pendidikan Akuntansi di Universitas Andalas sebelum kemudian pindah ke jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran. Namun kondisi ekonomi membuatnya harus berjuang lebih keras dibanding banyak orang lain.
“Saya hampir mengalami persoalan ekonomi yang sama seperti Pak CT,” ungkapnya, merujuk pada Chairul Tanjung yang menjadi sosok paling berpengaruh dalam hidup dan kariernya.
Sebelum menyelesaikan kuliah, Dony merantau ke Jakarta demi mencari nafkah. Ia pernah bekerja memasang billboard di jembatan jalan tol. Setelah itu, ia diterima sebagai operator telepon di Bank Pembangunan Asia yang kemudian berubah menjadi Bank Universal.

Meski memulai dari posisi paling bawah, Dony mengaku sejak awal ia sudah memiliki mimpi besar.
“Saya waktu itu operator telepon, tapi dalam pikiran saya, saya harus jadi CEO, jadi direktur utama.”
Dari operator telepon, ia dipromosikan menjadi customer service. Hanya dalam waktu enam tahun, Dony berhasil mencapai posisi Vice President di Bank Universal. Menurutnya, percepatan karier itu bukan karena kebetulan, melainkan hasil dari persiapan diri yang terus-menerus.
“Kesuksesan itu terjadi ketika preparation bertemu opportunity. Kalau kita terus mempersiapkan diri dan kesempatan datang, di situlah kesuksesan tercipta,” ujarnya.
Saat krisis moneter 1998 melanda Indonesia, Bank Universal mengalami merger dan menjadi Bank Permata. Dony kemudian bergabung dengan HSBC. Kariernya di sana terbilang sangat nyaman dengan berbagai fasilitas mewah dan penghasilan tinggi. Namun di tengah kenyamanan itu, Dony justru merasa dirinya belum selesai bertumbuh.
Saat itu, nama Bank Mega sedang naik daun di bawah kepemimpinan Chairul Tanjung. Dony tertarik bergabung meski harus mengambil keputusan besar yang penuh risiko. Bahkan, ia rela meninggalkan posisi mapan di HSBC demi memulai kembali dari posisi yang lebih rendah di Bank Mega.
“Saya turun dari VP menjadi AVP. Gaji jauh turun. Tapi saya percaya pilihan saya.”
Keputusan itu bukan tanpa pengorbanan. Dony bahkan harus membujuk adiknya untuk resign dari Bank Mega agar dirinya bisa diterima bekerja di sana karena aturan internal perusahaan saat itu. Semua fasilitas besar yang ia dapatkan di HSBC rela ia tinggalkan demi satu hal: kesempatan untuk belajar dan berkembang bersama sosok yang ia kagumi.
Pilihan itu akhirnya menjadi titik balik hidupnya. Di CT Corp, Dony mendapatkan ruang belajar yang luas. Ia berpindah-pindah divisi mulai dari operation, IT, service quality, kepala wilayah hingga akhirnya menjadi direktur bank. Bahkan, Chairul Tanjung juga memberinya kesempatan melanjutkan pendidikan S2.
“Ternyata pilihan saya tepat. Saya berkembang bersama CT Corp. Saya merasa menjadi orang yang dibentuk oleh Pak Chairul Tanjung,” katanya.
Bagi Dony, hidup pasti dipenuhi tantangan dan ujian. Namun selama tujuan yang dijalani adalah sesuatu yang baik, maka semuanya akan bisa dilewati dengan keyakinan, kerja keras, dan keteguhan hati. Justru tantangan itulah yang membentuk seseorang menjadi lebih kuat dan matang dalam menghadapi kehidupan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga niat baik dan selalu memberikan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Menurutnya, berbuat baik kepada banyak orang adalah investasi kehidupan yang tidak pernah sia-sia.
Soal waktu dan kehidupan, Dony mengingatkan generasi muda agar memahami skala prioritas. Kesenangan, menurutnya, tidak boleh ditempatkan di depan. Kesenangan sebaiknya hadir setelah perjuangan dan proses panjang dijalani.
“Jangan menikmati kesenangan terlalu cepat. Tempatkan kesenangan di belakang. Karena saat kita tua nanti, kita akan menikmati hasil dari kerja keras, disiplin, dan pengorbanan yang dibangun sejak muda.” (Pramono)