(Jakarta – Notarynews) Di tengah dinamika organisasi profesi yang kerap diwarnai tarik-menarik kepentingan, pengurus dituntut tidak sekadar tampil di panggung, tetapi benar-benar menghadirkan idealisme dan komitmen yang berpihak pada kemajuan organisasi dan anggotanya.
Hal tersebut disampaikan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia (PP INI) periode 2009–2012 dan 2013–2016, Adrian Juaini, S.H., dalam bincang santai dengan Notarynews di sela-sela acara KLB dan RP3YD INI di Ruang VVIP Ballroom Birawa, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (24/11).
Adrian menegaskan, idealisme dan komitmen pengurus organisasi adalah fondasi utama penguatan organisasi. Tanpa keduanya, organisasi akan mudah terjebak pada kepentingan sesaat dan sulit mencapai tujuan jangka panjang secara efektif.
“Pengurus itu jangan hanya cari panggung, tapi harus punya idealisme dan komitmen untuk membangun organisasi,” ujarnya.
Idealisme, menurut Adrian, merupakan keyakinan teguh para pengurus terhadap visi, misi, dan nilai-nilai dasar organisasi. Idealisme ini menjadi kompas moral dan sumber motivasi internal. Idealisme memastikan setiap langkah, kebijakan, dan keputusan tetap selaras dengan tujuan utama organisasi, bukan sekadar mengikuti kepentingan pribadi, kelompok, atau tren sesaat.
Selain itu, idealisme yang dipahami dan dihidupi bersama akan melahirkan budaya kerja yang positif, beretika, dan berorientasi pada pengabdian. Budaya seperti ini pada akhirnya akan menarik figur-figur yang memiliki visi dan integritas yang sama. Di tengah kritik, dinamika internal, maupun tekanan eksternal, idealisme juga membantu pengurus dan anggota tetap tegak dan konsisten karena mereka percaya bahwa tujuan organisasi adalah sesuatu yang benar dan layak diperjuangkan.
Jika idealisme adalah roh dan alasan organisasi berjalan, maka komitmen adalah wujud nyata dari idealisme itu dalam tindakan. Komitmen tercermin pada kesediaan mengalokasikan waktu, pikiran, tenaga, dan sumber daya demi kemajuan organisasi. Pengurus yang berkomitmen tidak bekerja secara musiman, tetapi menjalankan tugas secara konsisten terlepas dari situasi, kepentingan pribadi, atau suasana hati.
Komitmen yang kuat, lanjutnya, tidak hanya soal tanggung jawab pribadi dan rasa kepemilikan, tetapi harus didasari oleh nilai-nilai yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh anggota atau pihak yang terlibat. Nilai-nilai inilah yang menjadi motivator utama. Tanggung jawab sebagai kewajiban mungkin membuat seseorang menjalankan tugas, namun nilai-nilai yang bermanfaat akan mendorong pengurus berinvestasi secara emosional dan bekerja melampaui standar minimal.
Ketika anggota melihat bagaimana komitmen bersama dapat meningkatkan kesejahteraan, perkembangan profesi, serta tercapainya tujuan bersama, keterlibatan mereka akan tumbuh secara alami. Mereka tidak sekadar menjadi penonton, tetapi tergerak untuk ikut ambil bagian dalam setiap program dan kebijakan organisasi. Setiap program, tegas Adrian, semestinya mampu melahirkan idealisme sekaligus memberikan manfaat nyata bagi anggota, sehingga organisasi benar-benar dirasakan hadir dalam kehidupan profesional mereka.
Adrian juga menekankan pentingnya keberlanjutan jangka panjang dalam membangun organisasi. Rasa kepemilikan, katanya, bisa bersifat sementara atau bergantung pada sosok tertentu, tetapi nilai-nilai yang disepakati dan dirasakan manfaatnya secara bersama akan menciptakan fondasi yang kokoh dan tahan lama. Manfaat yang dirasakan kolektif itulah yang memastikan komitmen tetap relevan dan berkelanjutan, bahkan ketika terjadi perubahan kepemimpinan maupun dinamika keanggotaan.
Di akhir wawancaranya, Adrian mengharapkan pelaksanaan KLB dan RP3YD kali ini dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang benar-benar bermanfaat bagi organisasi dan anggota. Keputusan yang tidak hanya menjawab kebutuhan sesaat, tetapi juga menguatkan marwah profesi serta meneguhkan kembali idealisme dan komitmen dalam tubuh Ikatan Notaris Indonesia. (Pramono)