Adik Sukamawati: Empat Jurnal, Satu Langkah Menuju Dunia Kenotariatan

(Semarang, Notarynews) Sebelum menyandang gelar sarjana hukum, pemilik nama lengkap Adik Sukmawati sudah lebih dahulu menapaki dunia penelitian. Empat karya ilmiah berhasil diterbitkannya, termasuk satu artikel dalam jurnal terindeks Scopus. Kini, perempuan asal Ngawi, Jawa Timur, itu melanjutkan perjalanan akademiknya melalui Beasiswa Prestasi Magister Kenotariatan Universitas Islam Sultan Agung 2026.

Ada mahasiswa yang merasa lega ketika tugas kuliah selesai dan nilai sudah keluar. Namun, bagi Adik Sukmawati, sebuah tugas menulis bisa menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Ia tidak sekadar menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi mencoba membawa gagasannya keluar dari ruang kelas, mempertemukannya dengan perdebatan ilmiah, dan mengujinya melalui publikasi jurnal.

Ketertarikan itu tumbuh sejak ia menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 2020. Di tengah kesibukan mengikuti perkuliahan, Adik mulai mengenal kompetisi penelitian dan kegiatan penulisan ilmiah. Ia menemukan bahwa hukum bukan hanya kumpulan pasal yang harus dihafalkan, melainkan bidang ilmu yang terus berkembang dan membutuhkan penelitian.

Langkah pertamanya terlihat pada 2021. Ia meraih Juara I Lomba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Day UMS. Prestasi tersebut menjadi dorongan untuk terus mengembangkan kemampuan. Setahun kemudian, ia kembali mengikuti kompetisi serupa dan memperoleh Juara II. Pada tahun yang sama, Fakultas Hukum UMS juga mempercayainya sebagai penerima hibah penelitian.

Bagi Adik, pengalaman penelitian itu membuka kesempatan untuk memahami persoalan hukum secara lebih mendalam. Ia belajar merumuskan masalah, mencari landasan teori, membaca peraturan, serta menyusun argumentasi berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Namun, capaian yang paling menonjol datang pada 2022. Artikel ilmiahnya berjudul Penguatan Hukum Ekonomi Syariah pada Lembaga Keuangan Berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan berhasil diterbitkan dalam Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum, jurnal yang terindeks Scopus dan terakreditasi SINTA 1.

Publikasi tersebut menjadi pengalaman penting dalam perjalanan akademiknya. Menembus jurnal bereputasi bukan sekadar persoalan menghasilkan tulisan. Ada proses panjang yang menuntut ketelitian dalam membangun argumentasi, kecermatan menggunakan referensi, serta kemampuan mempertahankan gagasan secara ilmiah.

Adik kemudian memperluas perhatian penelitiannya ke sejumlah bidang hukum. Hingga 2025, ia telah menghasilkan empat karya ilmiah dengan topik yang beragam. Selain hukum ekonomi syariah, ia menulis tentang pengembangan perkebunan kelapa sawit berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria di Tanah Merah, Papua.

Pada 2023, ia juga terlibat dalam penulisan prosiding internasional berjudul The Urgency of the National Insight Test as an Instrument for Assessment of Acceptance of the Corruption Eradication Commission. Sementara pada 2025, tulisannya mengenai pelanggaran lalu lintas oleh pengemudi mabuk dan kaitannya dengan keselamatan jalan raya diterbitkan dalam DiH: Jurnal Ilmu Hukum.

Ragam topik tersebut memperlihatkan ketertarikannya untuk melihat persoalan hukum dari berbagai sudut. Baginya, penelitian memberikan ruang untuk memahami bagaimana hukum bekerja dalam kehidupan masyarakat, termasuk ketika berhadapan dengan persoalan ekonomi, agraria, kelembagaan negara, dan keselamatan publik.

Menjaga Prestasi di Tengah Aktivitas Organisasi

Kegiatan penelitian bukan satu-satunya kesibukan Adik selama menjadi mahasiswa. Ia juga aktif dalam organisasi yang bergerak di bidang jurnalistik dan penelitian.

Pada 2021–2022, ia menjadi anggota Divisi Jurnal LPM Justissica FHIP UMS. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan aktivitas pengelolaan publikasi dan penulisan. Berikutnya, pada 2023–2024, ia bergabung dengan Divisi Riset dan Penelitian KSPD Verfassung.

Keterlibatan dalam organisasi itu menjadi ruang untuk mengasah kemampuan bekerja bersama, mengembangkan gagasan, dan memperluas wawasan. Aktivitas tersebut sekaligus memperkuat kebiasaannya membaca dan menulis.

Yang menarik, kesibukan akademik dan organisasi itu tidak membuat prestasi perkuliahannya terabaikan. Adik berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana pada 8 Februari 2025 dengan IPK 3,78 dari Program Studi Ilmu Hukum UMS yang terakreditasi Unggul.

Ia juga terus mempersiapkan kemampuan bahasa asing. Pada Mei 2026, Adik memperoleh skor TOEFL ITP 553 dengan sertifikat tingkat Silver. Kemampuan tersebut menjadi bekal untuk memperluas akses terhadap literatur hukum internasional, terutama ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

Rekam jejak itu memperlihatkan bahwa prestasi akademik tidak selalu harus dibangun melalui satu jalur. Adik mengembangkan dirinya melalui perkuliahan, kompetisi, penelitian, publikasi, dan organisasi. Semuanya menjadi bagian dari proses mempersiapkan masa depan.

Kenotariatan sebagai Babak Baru

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Adik tidak memilih berhenti pada pencapaian tersebut. Ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke Program Magister Kenotariatan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) melalui Beasiswa Prestasi 2026.

Pilihan itu menjadi babak baru dalam perjalanan akademiknya. Jika sebelumnya ia lebih banyak berhadapan dengan penelitian dan pengembangan gagasan hukum, kini ia akan memperdalam pengetahuan mengenai dunia kenotariatan, sebuah bidang yang menuntut penguasaan hukum sekaligus ketelitian dalam praktik.

Adik menyadari bahwa kesempatan memperoleh beasiswa membawa tanggung jawab yang tidak kecil. Ia tidak ingin pendidikan magister hanya menjadi jalan untuk memperoleh gelar tambahan.

“Bagi saya, memperoleh beasiswa Magister Kenotariatan UNISSULA merupakan kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk terus mengembangkan kapasitas diri,” ujarnya.

Ia percaya pendidikan tinggi tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian gelar akademik. Pengetahuan yang diperoleh harus dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pandangan itu menjadi landasan dalam menyusun rencana selama menempuh pendidikan magister. Adik berkomitmen mempertahankan prestasi akademik, aktif mengembangkan penelitian dan publikasi ilmiah, serta memperluas pemahaman mengenai perkembangan hukum dan profesi notaris.

Setelah menyelesaikan pendidikan, ia berencana menjalani tahapan yang diperlukan untuk meniti karier sebagai notaris, termasuk memperoleh pengalaman profesional melalui magang.

Ada pula cita-cita lain yang ingin tetap dipeliharanya: dunia akademik. Ia tertarik untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu hukum kenotariatan. Baginya, pengalaman praktik dan kegiatan penelitian bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat saling melengkapi.

Di tengah perkembangan teknologi, digitalisasi layanan hukum, dan perubahan kebutuhan masyarakat, profesi notaris juga menghadapi tantangan baru. Kemampuan memahami peraturan saja tidak cukup. Diperlukan kemauan untuk terus belajar, memperbarui pengetahuan, dan menjaga integritas dalam menjalankan profesi.

Adik tampaknya memahami bahwa perjalanan menuju profesi tersebut tidak bisa ditempuh secara instan. Publikasi ilmiah, prestasi kompetisi, dan beasiswa yang diperolehnya merupakan modal awal, bukan garis akhir.

Dari Ngawi, ia telah membawa langkahnya hingga ke ruang publikasi jurnal internasional. Kini, melalui Magister Kenotariatan, ia ingin memperluas cakrawala keilmuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional.

Empat karya ilmiah mungkin menjadi catatan penting dalam perjalanan akademiknya. Namun, tantangan sesungguhnya justru terletak pada apa yang akan ia lakukan dengan pengetahuan yang telah diperoleh. Intinya, pendidikan bukan semata-mata tentang seberapa banyak gelar yang berhasil diraih, melainkan tentang seberapa jauh ilmu dapat memberi arti bagi kehidupan orang lain. (Pramono)

Releated Posts

Follow Us Social Media

ADVERTISMENT

Are You Ready to Explore the Renewed JupiterX with Advanced User Experience?

Trending Posts

Recent Posts

ADVERTISMENT